Kebakaran Hutan Kalimantan Terjadi Lagi, Seberapa Buruk Kualitas Udaranya?
Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan pada September 2026 kembali menghasilkan kabut asap yang berdampak pada kualitas udara. Pembakaran biomassa menghasilkan campuran particulate matter (PM) dan gas hasil pembakaran. Partikel berukuran sangat kecil seperti PM1 dan PM2.5 dapat meningkat signifikan karena asap mengandung partikel halus hasil pembakaran tidak sempurna, sementara PM10 juga dapat meningkat akibat abu dan partikulat yang terbawa angin. Kondisi ini membuat konsentrasi partikulat di udara ambien meningkat dan berpotensi memperburuk nilai Air Quality Index (AQI).
Selain partikulat, asap kebakaran juga membawa carbon monoxide (CO) sebagai salah satu produk pembakaran tidak sempurna, sedangkan carbon dioxide (CO₂) dihasilkan dari proses pembakaran material organik. Karena itu, ketika plume asap melewati area pemantauan, instrumen Air Quality Monitoring (AQM) dapat mencatat peningkatan konsentrasi PM dan gas tersebut. Aeroqual AQM 65 dirancang untuk pemantauan kualitas udara secara kontinu dan real-time, dengan konfigurasi yang dapat mengukur PM1, PM2.5, PM10, CO, CO₂ serta berbagai parameter gas dan meteorologi lainnya.
Dalam kondisi kebakaran hutan, monitoring berbasis data menjadi penting untuk mengetahui perubahan kualitas udara secara objektif, baik untuk evaluasi lingkungan, sistem peringatan dini maupun pengambilan keputusan di area terdampak. PT Tridinamika Jaya Instrument menyediakan solusi Aeroqual AQM 65 untuk kebutuhan pemantauan kualitas udara ambien dengan pengukuran multi-parameter dan pencatatan data secara kontinu. Dengan data PM dan gas yang terukur secara real-time, perubahan kualitas udara akibat asap kebakaran dapat dipantau secara lebih terukur dan terdokumentasi






